Tangerang, LintasAgamaNews.Com – Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) secara resmi membuka kegiatan Pelatihan dan Edukasi Gizi Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) tahun 2026. Acara yang digelar di Gedung Serba Guna (GSG) Kabupaten Tangerang ini menjadi langkah strategis pemerintah daerah dalam mengejar target Indonesia Emas 2045 melalui percepatan penurunan angka stunting.
Dalam sambutannya, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekertariat Daerah Prima Saras Puspa menekankan bahwa intervensi stunting harus dilakukan secara konvergensi, baik spesifik maupun sensitif. Hal ini sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 dan komitmen lokal melalui Peraturan Bupati Nomor 103 Tahun 2022 tentang Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Tangerang.
“Visi Indonesia Emas 2045 tidak akan bermakna jika anak-anak kita tumbuh dengan kondisi stunting. Melalui DASHAT, kita tidak hanya sekadar masak-memasak, tetapi memberdayakan masyarakat di tingkat Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) untuk memahami gizi keluarga dengan memanfaatkan pangan lokal,” ujarnya.
Ia menambahkan bawa Kegiatan DASHAT tahun 2026 ini menunjukkan peningkatan jangkauan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tercatat, DPPKB Kabupaten Tangerang berhasil mendapatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk menyelenggarakan pelatihan di 265 desa/kelurahan dengan sasaran mencapai 13.250 Keluarga Berisiko Stunting (KRS).
Selain dukungan dana pusat, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) juga dialokasikan khusus untuk 10 Desa Lokus, yang mencakup pemberian bahan natura kepada 1.240 KRS. Upaya ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang telah berjalan konsisten sejak 2023 hingga 2025 dengan total sasaran mencapai puluhan ribu keluarga,” ungkapnya.
Pelatihan ini memfokuskan pada tiga pilar utama yaitu, pemberdayaan ekonomi, edukasi gizi, dan pemanfaatan pangan lokal. Para kader didorong untuk memaksimalkan potensi bahan pangan yang ada di sekitar rumah, seperti ikan lele atau hasil kebun, agar tidak ada lagi alasan kendala biaya dalam memenuhi gizi anak.
“Sering kali masalah gizi bukan karena tidak ada makanan, tapi karena kurangnya pemahaman mengolah bahan pangan yang tepat. Ibu-ibu kader adalah ujung tombak kita untuk menularkan ilmu ini kepada tetangga dan ibu hamil di lingkungannya. Selain program DASHAT, pemerintah juga mensosialisasikan berbagai program prioritas lainnya seperti TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak), GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia), dan dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG),” jelasnya.
Ia mengharapkan pentingnya gotong-royong antara kader dan keluarga dalam upaya pemenuhan gizi dan pendidikan anak. Kerja sama di semua tingkat masyarakat menjadi kunci karena pembangunan sumber daya manusia membutuhkan keterlibatan aktif, bukan hanya kebijakan pemerintah.
“Investasi utama bangsa terletak pada kualitas manusia, bukan infrastruktur fisik. Gizi dan pendidikan anak menjadi fondasi keberlanjutan pembangunan, karena generasi yang sehat dan cerdas adalah modal utama untuk masa depan yang tangguh dan mandiri,” tutupnya.

















