Buleleng (Bali ) Lintaslestari.news – Keluarga dalam ajaran agama Hindu adalah unsur yang penting dalam melaksanakan Yadnya dan bhakti terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Keluarga dapat diartikan sebagai suatu jalinan atau ikatan pengabdian antara suami, istri dan anak.
Dasar ikatan keluarga adalah “pengabdian” bukan pengorbanan. Seluruh anggota keluarga yaitu suami, istri, dan anak harus menyadari sepenuhnya bahwa apa yang dilakukan di dalam keluarga semata-mata adalah amanat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga semua yang dilakukan berdasarkan ketulusan hati yang suci.
Tujuan dalam Keluarga Hindu adalah membentuk keluarga bahagia dan sejahtera (sukhinah bhawantu) adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras, serasi, saling setia serta mampu mengamalkan, menghayati, dan memperdalam nilai-nilai sradha (keimanan) dan bhakti.
Menurut Vedanta Ekonomi Hindu adalah sistem ekonomi untuk mencapai kedamaian batin, kebangkitan spiritual, yang merupakan tujuan dari semua transaksi ekonomi, seperti halnya sloka yang berbunyi “Molcsartham Jagadhita Ya Ca lti Dharma”, dalam hal ini adalah mencapai jagadhita dan moksa. Jagadhita berarti kesejahteraan jasmani dan moksa berarti ketentraman batin atau kehidupan abadi dengan bersatunya Atman (roh manusia) dengan Brahman (Tuhan).
Dengan demikian tujuan hidup manusia dalam agama Hindu dapat diartikan sebagai usaha untuk mencapai kesejahteraan jasmani, ketentraman batin dan kehidupan abadi dengan bersatunya roh manusia dengan Tuhan. Ajaran mengenai Moksartham Jagadhita Ya Ca lti Dharma ini kemudian dijabarkan dalam konsep Catur Purusa Artha. Catur Purusa Artha berasal dari kata catur yang berarti empat, purusa berarti jiwa manusia dan artha berarti tujuan hidup.
Ajaran tentang catur purusa artha ini dapat dijumpai dalam Kitab Brahma htrana 229.45 (Nesawan, 1998:62) yang memuat sebagai berikut: Dharmarta kama moksanam sariram sadanam Terjemahan: Tubuh adalah alat (untuk mendapatkan) dharma, arta, kama dan moksa. Ajaran di atas bermakna bahwa dharma, artha, kama dan moksa (kebahagiaan) merupakan tujuan hidup manusia, sedangkan badan raga atau tubuh adalah alat untuk mencapainya.
Untuk dapat mencapai kebahagiaan sebagai tujuan hidup yang tertinggi, maka dharma, artha dan kama dalam pelaksanaannya harus bergandengan erat dan bekerja sama. Dalam hal ini artha (kekayaan) dan kama (keinginan), harus diperoleh melalui jalan dharma (kebenaran), karena tanpa jalan dharma, maka kebahagiaan dan kesejahteraan tidak akan dapat dicapai, seperti halnya kebahagiaan dan kesejahteraan dalam keluarga.
Hal tersebut dalam Kitab Sarassamuscaya sloka 261 sampai 271 yang menjelaskan harta hendaknya digunakan untuk mencapai dharmayang utama, kemudian bagian yang kedua adalah untuk memenuhi kama, dan yang ketiga diperuntukkan dalam melakukan kegiatan usaha di bidang artha, agar ekonomi berkembang kembali, untuk mencapai kebahagiaan.
Keluarga sama halnya seperti Pura (tempat ibadah umat Hindu) yang merupakan organisasi nirlaba yang tidak berorientasi pada keuntungan. Walaupun kondisi keuangan keluarga bukan untuk konsumsi publik, tetapi dengan terarahnya keuangan keluarga serta dikelola secara akuntabilitas, dapat menimbulkan kepercayaan antar sesama anggota keluarga khususnya bagi suami-istri dalam menghadapi berbagai kondisi sulit.
Keluarga yang sukhinah adalah awal dari pemberdayaan masyarakat yang lebih maju dan sejahtera Menurut Wiana (2006 a:212-213), ada 5 (lima) standar hidup yang disebut sejahtera, yaitu:
“(l) Wareg, artinya orang dapat memenuhi kebutuhan pangannya (makan) sesuai dengan kebutuhan fisiknya akan jumlah gizi yang cukup untuk mempertahankan hidup yang sehat;
(2) Waras, artinya hidup secara wajar mampu memenuhi kebutuhannya dalam menjaga kesehatan dan kebugaran fisik dan jiwanya;
(3) Wastra, artinya hidup yang mampu memenuhi kebutuhannya dalam bidang sandang secara wajar menurut ukuran umum dalam pergaulan masyarakat;
(4) Wisma, artinya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya akan perumahan yang sehat dan wajar; dan
(5) Wasita, artinya marnpu memenuhi kebutuhan hidupnya dalam bidang pendidikan dan seni budaya”.
Dalam upaya mewujudkan keluarga sukhinah bhawantu tentu memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang cukup luas bagi pasangan suami istri (pasutri), karena dalam mengarungi perjalanan berumah tangga, mereka pasti akan menghadapi berbagai persoalan dan konflik keluarga. Salah satunya menghadapi urusan finansial (keuangan). Oleh karena itu diperlukan sebuah perencanaan finansial dalam kehidupan keluarga pasangan suami istri tersebut.

















